sebuah cerita singkat pasca pilgub dki: edisi 1

Masih teringat jelas dingatan gw waktu jadi ketua umum bem feui 2011. Sangat beruntung sempat mengenyam pendidikan di feui, bukan apa2 imo level feui itu selevel fkui karena bukan hanya anak ips tapi anak ipa juga berlomba2 masuk feui. Oleh karena itu, ga heran kalo feui mendapat kunjungan dari sma2 yang tidak terhitung jumlahnya dimana ini adalah salah satu fungsi bem melayani mereka.

Dari semua kunjungan tersebut, salah satu yang paling berkesan di benak saya adalah kunjungan sma penabur tangerang (kalo ga salah) dimana mayoritas siswanya chinese dan kristen.

Pas gw tanya ke guru yang mendampingi para siswa,
“anak2 setelah lulus sma, kuliah dmn pak?”
Dijawab, “biasanya ke luar negeri mas atau atmajaya, uph, dan semacamnya”

Gw tanya balik, “knp ga coba ke ui dlu pak?”
Dibales dgn nada pelan2, “banyak dari mereka (dan ortunya) takut didiskriminasi dan dirasisin mas”

Gw kaget sekaget-kagetnya. Langsung aja gw klarifikasi ke bapak tersebut.

“Wuah di sini (ui) insya allah udh ga ada lagi gitu2 (diskriminasi) pak. Banyak temen2 yg chinese n kristen kuliah di sini dan mereka sptnya ok2 aja”

Bapaknya bales, “oh gitu ya mas. Makasih updatenya”.

gw tanya lagi, “kenapa bisa begitu pak?”
“Biasanya karena orang tua nya trauma masa lalu mas, khususnya waktu kerusuhan ’98.”

“Ooh gitu pak. insya allah udah ga ada gitu2 lagi pak sekarang. motivasi aja anak2nya biar coba masuk (fe)ui”

“Ok mas”

dan percakapan pun kami selesaikan. sekian.

Jadi, imo tidak berlebihan jika video terakhir yg dibuat tim ahok. Sepertinya memang itulah yang dirasakan “mereka” hingga saat ini, sebuah ketakutan atas diskriminasi terhadap minoritas terulang dimana pilgub dki 2017 telah membuka luka lama yg mulai mengering, kini sepertinya menjadi basah kembali. semoga tidak.

Advertisements