Sebuah cerita singkat pasca pilgub dki: edisi-2

Saya dan kedua kakak saya-semuanya lahir di RS St. Carolus-Jatinegara. Rumah sakit terdekat dari rumah orang tua saya tinggal dahulu, yaitu Kp-Pulo-Kp. Melayu. Tiap tahun biasanya kampung ini mengalami banjir lantaran kiriman dari Bogor. Tiap tahun pula rasanya Kp. Pulo selalu masuk TV karena dilanda banjir. Banyak orang yang iba ketika melihat liputan banjir di Kp. Pulo dan mengirim bantuan, seperti baju, makanan, dll, padahal menurut pengakuan saudara saya yang tinggal di sana: mereka justru berkelakar “senang ketika banjir datang karena kita bisa dapat baju baru, makanan dll.” Hehehe.

Banjirnya Kp. Pulo bukanlah hal baru. Hal ini sudah terjadi puluhan tahun lamanya. Setidaknya sebelum saya lahir (1989) pun, Kp. Pulo sudah banjir jikalau Bogor sedang hujan lebat dan periode yang cukup lama. Saking seringnya, orang-orang Pulo sudah tidak heran dan takut lagi dengan banjir. Mereka sudah hafal mati kapan dan seberapa tinggi banjir itu akan terjadi dengan hanya bermodal informasi yang dikirim dari Katulampa-Bogor.

Orang tua saya, khususnya ayah saya, sudah tinggal di Pulo sejak tahun 1960-70an karena nenek saya memiliki usaha nasi padang di Pasar Jatinegara. Letaknya yang streategis-dekat dengan pasar , membuat Pulo menjadi lokasi favorit bagi para pedagang di pasar tersebut untuk menetap. Setelah menikah, kedua orang tua saya tinggal di sana hingga awal 1990-an sebelum kami pindah ke Bekasi hingga saat ini.

Hingga saat ini, masih banyak tetangga dan beberapa keluarga saya yang menetap di Pulo. Sempat saya sekali dibawa ke Pulo dan warga Pulo langsung bereaksi, “Oh, ini Ian (panggilan saya di rumah)! Buset dah, dulu mah masih orok, sekarang udah gede ya”.

Rumah Bantaran Kali

Salah satu famili yang tinggal di sana pernah memiliki rumah persis di pinggiran sungai CIliwung di Kp. Pulo ini. Awalnya, saudara saya itu menetap di rumah mertuanya yang letaknya juga di Kp. Pulo. Setelah mendapatkan warisan, tak lama dia kemudian membeli sepetak rumah di Kp. Pulo yang letaknya benar-benar di tepi sungai.

Awal mendapat cerita ini, saya pikir “dipinggir” sungai itu masih beberapa meter dari sungai. Ternyata, sempat sekali saya ke sana, rumahnya benar—benar di tepi sungai! Waktu saya buka pintu dan jendela belakang rumahnya, langsung saya lihat aliran kali CIliwung. Luar biasa kaget! hahaha

Dalam kunjungan ini, saudara saya tersebut menunjukkan sertifikat kepemilikan rumah dan juga bukti-bukti pembayaran PBB. Saya tertegun sejenak, sembari berpikir: apakah mungkin memiliki rumah persis di bantaran kali seperti ini? Apakah ini dibolehkan secara hukum? Naluri dan logika saya berkata: tidak mungkin! Tapi mereka benar-benar memiliki surat resmi dan lengkap dari Pemerintah sebelumnya. Luar biasa, manajemen pemerintahan dan tata kota macam apa ini?

Beberapa lama kemudian, ketika mereka bertandang ke rumah orang tua saya di Bekasi, mereka bercerita bahwa akan ada wacana penggusuran rumah-rumah di bantaran sungai Kp. Pulo dari Pemda DKI di bawah Ahok dimana rumah saudara saya ini juga termasuk dalam rencana tersebut. Singkat cerita, akhirnya penggusuran tetap dilakukan, meskipun diwarnai perlawanan dari warga. Namun, hebatnya Pemda DKI tidak hanya main gusur tapi mereka juga menyediakan rumah susun di Jatinegara untuk para korban penggusuran.  Keluarga saya pun menerima tawaran ini dan hingga saat ini tinggal di rusun ini.

Ketika di awal perpindahan ini, saya masih ingat betul bagaimana mereka cukup bergembira dan menerima dipindah ke rusun ini. Meskipun lebih kecil, tetapi setidaknya tidak berada di pinggir sungai. Mendengar cerita tersebut, saya langsung mengapresiasi dengan apa yang dilakukan Pemda DKI dalam kasus ini. Padahal, posisi pemerintah sangat kuat dalam kasus ini. Pemerintah bisa saja menggusur tanpa ampun segala bangunan di bantaran sungai, namun Pemda DKI tidak memilih jalan itu. Mereka tetap memberikan rusun bagi para korban penggusuran.  Bagi saya, ini luar biasa! Pernyataan keluarga saya ini saya dengar langsung jauh-jauh haru sebelum riuh-riuh Pilkada DKI 2017. Sengaja saya simpan cerita ini pasca pilgub, agar cerita ini tidak terdistorsi pilihan politik kita, karena saya tahu Pilgub DKI 2017 terlalu panas yang sering membuat kita buta mata-tuli telinga untuk saling mendengar kebaikan lawan kita. Semoga prestasi ini terulang di kepemimpinan selanjutnya dan juga dilakukan oleh daerah-daerah lainnya.

Dzulfian Syafrian

April 20, 2017.

Durham-Inggris

Note: kredit foto dari Kompas/Lucky Pransiska

Advertisements