Dua hari ini (Jumat-Sabtu 28-29 April 2017) saya berkesempatan untuk mengikuti training “Mengelola dan Merubah Masyarakat (Community Organising) yang diselenggarakan oleh ormas inggris yang bernama “Citizens UK”. Organisasi ini bertujuan untuk menyuarakan dan mengadvokasi berbagai isu terkait ketidakadilan sosial dan kepentingan publik kepada pihak-pihak terkait, khususnya ke Pemerintah. Organisasi ini memiliki motto yang sangat indah menurut saya, yaitu “Build the bridge, not the wall“: mari bangun jembatan, bukan tembok. Sebagaimana mottonya, ormas ini bertujuan untuk menggali apa yang menjadi keresahan masyarakat, khususnya mereka yang tak berdaya (powerless people/kaum dhuafa), agar bisa disuarakan ke mereka yang memiliki kuasa (powerful people).

Saya dapat begitu banyak insipirasi dan ilmu dari pelatihan ini. Saya juga bertemu dengan berbagai aktivis lintas kegiatan, mulai dari aktivis islam yang mencoba meluruskan islamophobia, aktivis gereja, aktivis buruh, aktivis pendidikan, aktivis politik, aktivis anak, aktivis kesehatan, dan lainnya. Insya Allah, saya akan coba catat pula apa yang saya pelajar di hari kedua esok hari. Semoga para pembaca, khususnya para aktivis, juga dapat mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Pada hari pertama saya belajar beberapa hal.

I. Negosiasi: antara Kuasa dan Kepentingan

Di sesi pertama, saya belajar tentang pentingnya negosiasi serta bagaimana menerapkan prinsip-prinsip dasar negosiasi dalam mengadvokasi kepentingan publik. Dalam sesi ini, fasilitator pelatihan menggunakan sebuah cerita dengan latar belakang peradaban Yunani Kuno (Athenian) yang hendak melakukan negosiasi ke sebuah negeri kecil (Melian) dimana berposisi netral-tidak berpihak ke Athena atau pun kerajaan-kerajaan besar lainnya seperti Spartan dan Persia. Agar lebih mudah, bayangkan saja negeri “kecil” ini adalah Indonesia, sedangkan negara-negara “besar”nya adalah Cina, Rusia atau Amerika Serikat berlaku sebagai Athena. Cerita ini dapat di-download di sini. Jika ada waktu, saya akan coba terjemahkan cerita ini dalam bahasa indonesia agar karena menurut saya cerita ini sangat baik digunakan untuk pelatihan-pelatihan dalam memahami pentingnya negosiasi dan peran kekuasaan dan kepentingan dalam negosiasi itu sendiri.

Sesi pertama ini menurut saya adalah sesi yang paling menarik, karena selain disampaikan dengan cara yang fleksibel dan kreatif dimana semua peserta training yang berjumlah 20-30 orang turut andil dalam meja runding. Kami beraksi layaknya para delegasi kedua negara tersebut. Bagaimana kami berdiskusi dengan pihak lain yang memiliki kepentingan berbeda dengan kita.

Dalam simulasi diskusi ini, kami melakukan 5 kali percobaan. Hasilnya sangat menarik, dan juga menakutkan. 3 perundingan pertama, negosiasi berakhir dengan “deadlock” kita tidak memiliki kesepakatan sehingga sebagaimana cerita tersebut indikasikan bahwa jika tidak bersepakat-maka kedua pihak akan berakhir dengan perang, kematian dan kekejaman lainnya. Namun, dalam simulasi keempat dan kelima, akhirnya kami menemukan kesepakatan sehingga output perundingan jauh lebih baik bagi kedua pihak. Kami tidak perlu angkat senjata satu sama lain, kami tidak perlu saling membunuh atau melakukan intimidasi satu sama lain.

Ada beberapa prinsip dasar yang harus kita lakukan dalam melakukan negosiasi:
1. Rasional dan pragmatis.

Pahami bahwa realitas tidak seindah yang kita idam-idamkan (how the world should be) tapi sadari bahwa yang bisa kita lakukan adalah merubah dunia saat ini (how the world as it is) menjadi lebih baik. Seringkali, realitas di lapangan tidak berkesuaian dengan yang apa kita yakini (etika, prinsip, nilai, ideologi, agama, dll.) atau idam-idamkan (wishful thinking), oleh karena itu menjadi tetap rasional dan pragmatik menjadi penting dalam negosiasi.

2. belapang lada untuk bernegosiasi dan tidak menutup diri tanpa kompromi dan berpikiran negatif di awal.

3. Miliki kriteria yang jelas dengan permintaan/tuntutan kita, hindari hal-hal yang berbau abstrak.

4. Pahami bahwa konsep keadilan sosial (social justice) adalah tergatung struktur dari kekuasaan yang ada di masyarakat.

Kata kunci dari terciptanya kesepakatan adalah menemukan kesamaan antara pihak yang terkait (common interest). Secara teori, kesamaan kepentingan ini akan ditemukan jika kita mengetahui dan mau berdiskusi dengan kepentingan pribadi/golongan (self interest) dari lawan negosiasi kita. Ada beberapa kunci dalam melakukan negosiasi:
1. Self-interest (kepentingan): Catat apa yang hendak kita negosiasikan secara rinci dan antisipasi apa yang hendak lawan negosiasi kita akan minta. Oleh karena itu, memahami kepentingan kita (self interest) dan lawan menjadi penting.

Hal ini menjadi pentinga karena orang bergerak dengan berbagai alasannya masing-masing. Ada tiga hal yang dapat membuat seseorang tergerak memperjuangkan kepentingannya:

i) Preservation: bagaimana organisasi/gerakan ini mampu memberikan ke anggotanya.
ii) Pengakuan (recognition): kebanggan atau nilai apa yang organisasi/gerakan berikan terhadap para anggotanya.
iii) meaning: nilai transenden apa yang dibawa dalam organisasi/gerakan ini bagi para anggotanya.
Tanpa ketiga hal ini, lambat laun organisasi/gerakan tersebut akan ditinggalkan oleh anggotanya.

2. Persiapan dan jeda (preparation and time-out): Sebelum naik ke meja runding, pastikan kita telah memiliki cukup waktu untuk menyiapkan perundingan ini. Tidak kalah penting, jangan lupa untuk alokasikan jeda agar keputusan yang diambil tidak terburu-buru.
3. Tuntutan yang spesifik: pastikan apa yang kita minta/tawarkan adalah spesifik dan dapat dikuantifikasi/tidak abstrak.
4. delgasikan tugas yang jelas ke masing-masing delegasi. Pastikan rombongan delegasi terdapat ketua tim, ada pula yang fokus dalam isu A, ada pula yang hanya fokus isu B, ada yang time-keeper, dll.
5. Identifikasi siapa orang-orang penting dalam lawan negosiasi kita. Cari tahu, siapa ketua tim mereka, siapa jubirnya, apa saja kuasa yang dimiliki para lawan bicara, dll.

II. Prinsip Dasar Mengelola Masyarakat

Sesi kedua kemudian saya belajar tentang prinsip-prinsip dasar dalam mengelola dan hendak membuat perubahan di masyarakat (Universals of Community Organising). Secara teori, jika hendak merubah masyarakat, hal yang paling dimiliki oleh para aktivis hanya lah satu hal, yaitu kuasa/kekuatan (power). Mustahil melakukan perubahan jika kita tidak memiliki kuasa. Kuasa di sini tentu memiliki banyak jenis tapi secara umum, kekuasaan didapatkan melalui dua hal: mengelola masyarakat (organising people) dan mengelola modal (organising capital/money). Contoh organisasi/komunitas yang memiliki kekuatan dengan mengelola masyarakat adalah berbagai ormas-ormas, sedangkan contoh organisasi yang mampu mengelola kapital adalah perusahaan. Kedua hal ini mutlak tidak dapat dipisahkan jika kita hendak membuat suatu gerakan yang berkelanjutan: tidak akan bertahan lama sebuah organisasi dengan jumlah massa besar tapi tidak didukung dana yang cukup, juga sebaliknya: tidak akan bertahan besar dana tanpa adanya anggota di dalamnya. Jadi, secara teori, semakin besar kemampuan kita dalam mengelola masyarakat dan modal, semakin besar pula lah kekuasaan yang akan kita miliki di masyarakat untuk merubah situasi di masyakat.

Secara umum pula, ada dua jenis kekuatan yang bisa kita bentuk dan akumulasi. Yang pertama adalah kekuasaan definitif (dominant power: power over-) dan kekuasaan relasional (relational power: power with-). Kekuasaan definitif berarti kita memiliki kekuasaan terhadap seseorang sehingga orang tersebut tidak dapat mengelak dengan apa yang kita. Contoh kekuasaan definitif adalah bagaimana perusahaan mempu memaksa karyawannya untuk bekerja sesuai yang mereka minta dengan gaji tertentu. Contoh lain kekuasan definitif adalah bagaimana negara/pemerintah mampu memaksa kita menaati berbagai peraturan yang mereka perbuat, seperti peraturan jalan raya, membayar pajak, dll. Biasanya, dalam gerakan ormas, yang dimiliki adalah bagaimana mengakumulasi kekuasaan relasional, oleh karena itu training ini fokus bagaimana membangun kekuasaan jenis ini.

Dalam melakukan perubahan di masyarakat, khususnya ketika melakukan advokasi terhadap sesuatu, penting bagi kita untuk melakukan dan memahami analisis struktur kekuasaan terlebih dahulu (power analysis). Ada beberapa pertanyaan yang mesti kita jawab sebelum melakukan advokasi sesuatu:
1. siapa diri saya dalam masyarakat/organisasi? Apa kuasa yang saya miliki? (Who am I?)
2. Siapa saja orang-orang yang berpengaruh/dihormati/memiliki kuasa dalam isu yang hendak diadvokasi?
3. Siapa saja orang-orang yang memiliki jaringan paling baik dalam isu yang hendak saya advokasi?
4. Bagaimana keputusan/kebijakan terkait biasanya diambil/diputuskan? Siapa saja orang yang terkait dalam pengambilan keputusan ini?
5. Apa saja group-group terkait atau kelompok kepentingan yang terkait dengan isu ini?

III. Membangun Relasi dan Jaringan

Di sesi terakhir: kopi darat (Relational Meetings), saya belajar bagaimana membangun hubungan personal dengan orang-orang terkait. Ada beberapa hal yang patut dicatat dalam hal ini:
1. kopi darat harus bertatap muka, bukan melalui media sosial atau teleconference.
2. minimal sekitar 30-45 menit per orang.
3. Catat apa yang hendak kita diskusikan ke lawan bicara kita.
4. Utarakan apa yang menjadi kepedulian/ketertarikan kita (self interest) ke mereka.
5. Bangun hubungan yang seimbang-tidak mendominasi satu dengan yang lain.
6. Dengar 3x, tapi bukan sesi curhat/konsultasi.
7. Pahami dan gali latar belakang lawan bicara kita tapi bukan berarti menceritakan “CV” kita.
8. temukan kesamaan (common interests).
9. kopi darat berbeda dengan mengobrol (chatting).

Saya dapat begitu banyak insipirasi dan ilmu dari pelatihan ini. Saya juga bertemu dengan berbagai aktivis lintas kegiatan, mulai dari aktivis islam yang mencoba meluruskan islamophobia, aktivis gereja, aktivis buruh, aktivis pendidikan, aktivis politik, aktivis anak, aktivis kesehatan, dan lainnya. Insya Allah, saya akan coba catat pula apa yang saya pelajar di hari kedua esok hari. Semoga para pembaca, khususnya para aktivis, juga dapat mendapatkan ilmu yang bermanfaat seperti saya.

Salam,

DS

28 April 2017.

Durham-Inggris.

Advertisements