Akhirnya, setelah perjalanan panjang Alhamdulillah lulus juga ujian ambil surat izin mengemudi (SIM) Inggris, yeah!!!! I did it!!!.

Rasa-rasanya ujian dan persiapan ambil SIM ini lebih susah daripada persiapan SNMPTN masuk UI dulu #lebay hahaha. Banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan dengan mengambil SIM Inggris ini, mulai dari belajar teori nyetir yang benar hingga mempelajari bagaimana mekanisme Pemerintah Inggris memastikan bahwa para pengemudi yang mendapatkan SIM berkendaraa secara selamat, disiplin dan teratur.

Di awal belajar nyetir di Inggris, saya temukan begitu banyak cara berkendara kita (orang Indonesia) yang salah kaprah atau bahkan berbahaya. Misalkan, kita seringkali salah menggunakan lampu hazard di kondisi-kondisi yang tidak perlu, contoh melewati kolong jembatan/terowongan atau ketika hujan sangat lebat hingga pandangan kita sangat pendek. Dalam kedua kondisi ini, secara teori kita tidak perlu menyalakan hazard karena lampu hazard hanya dilakukan ketika kondisi darurat, misal ketika di depan kita terjadi kecelakaan atau kendaraan kita mogok/pecah ban.

Atau bagaimana posisi tangan kita ketika sedang berkendara, khususnya ketika kita hendak memutar stir cukup signifikan-seringkali kita menyilangkan tangan kita dimana hal ini berbahaya jika terjadi kecelakaan. Dan masih banyak lagi hal-hal keliru yang sering kita, orang-orang Indonesia, keliru lakukan dalam berkendaraan. Oia, berikut berbagai tautan penting untuk memperbaiki cara nyetir kita:

  • Untuk mempelajari teori nyetir bisa di baca di sini situs resmi Pemerintah Inggris, sedangkan untuk menguji pengetahuan kita dapat ikut simulasi ujiannya (gratis) di sini.
  • Untuk mengetahui teknik berkendara yang benar dapat lihat channel youtube ini atau ini.

Belum lagi kalo kita berbicara soal etika berkendara, disiplin berlalu lintas, dll khususnya bagaimana memahami hak dan kewajiban kita sebagai pengendara dan juga orang lain. Tentu, negara maju seperti Inggris telah memiliki sistem yang bagus dalam memastikan penduduknya berkendara secara tertib, mulai dari kamera pemantau kecepatan (speed limit camera), penegakan hukum yang tegas dan berbasis IT, proses pembuatan SIM yang modern berbasis IT, bersih tanpa sogok, mudah, pasti dan jelas prosedurnya, dan tentunya ketat, tanpa kompromi dan berstandar tinggi dalam meluluskan para peserta ujian.

Bandingkan di negara kita (tak tahu apakah saat ini masih seperti ini atau tidak, mudah2an sudah berubah. dengar-dengar sih sudah (mulai) berubah. amin.), biasanya cukup dengan uang 300-500rb kita bisa langsung mendapatkan SIM-meskipun kita tidak tahu teori-teori nyetir, hafal dan mengerti semua rambu lalu lintas, atau belum lihai (bahkan mungkin tidak bisa sama sekali nyetir).

Tidak heran jika pada akhirnya perilaku berkendara kita menjadi tidak disiplin, tidak menghormati pengemudi lainnya, berbahaya, ugal-ugalan yang berujung pada semrawutnya jalan-jalan Indonesia. Alhasil, tidak heran jika tahun lalu (2016), tercatat total 105.374 kasus, dimana korban meninggal dunia sebeanyak 25.859 orang, luka berat 22.939 orang, luka ringan 120.913 orang (Kompas.com, 25/01/2017). Selain itu, secara global, Indonesia merupakan negara kelima paling banyak menelan korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas dan pertumbuhannya tertinggi di dunia hingga lebih dari 80 persen (Republika online, 6/11/2014).

Oleh karena itu, semoga pengetatan perizinan mengendarai motor (mendapatkan SIM) serta berbagai penegakan hukuman atas pelanggaran apapun dapat diperbaiki di Indonesia sehingga kita dapat mengurangi jumlah orang yang meninggal di jalan karena keluarga kita semua selalu menunggu kedatangan kita di rumah.

Catatan tambahan:

Total saya telah menghabiskan sekitar Rp6,5 juta (£400):

  • £46 atau setara dengan Rp800.000,- buat biaya tes teori 2x (£23×2).
  • £124 atau setara dengan Rp2.120.000,- buat biaya tes praktek 2x (£62×2).
  • £220 atau setara dengan Rp3.800.000,- buat biaya latihan nyetir 10 jam sama instruktur profesional (£22×10), meskipun saya sudah punya SIM Indonesia selama 5 tahun.
  • berhari-hari belajar teori nyetir, UU nyetir Inggris, ngapalin rambu lalu lintas, dll.
  • 2 bulan, mulai dari awal April (mulai baca-baca teori nyetir, sampe 31 Mei 2017 lulus ujian praktek dan mendapatkan SIM Inggris).
  • biaya lain-lain yang tak terhingga.
  • sebungkus Sampoerna Mild buat si abang instruktur.

Yup, cukup banyak waktu, tenaga dan uang yang saya habiskan untuk mendapatkan SIM di Inggris. Tapi SIM ini berlaku selamanya, selama saya tidak melanggar peraturan lalu lintas.

 

Advertisements